15/09/16

11/09/16

Anak kecil

Malam ini masih seperti biasa
Aku duduk bersila dihadapan jalan
Memandangi sesiapa saja yang lewat
Dengan atau tanpa menoleh ke arah ku

Lalu lewat seorang anak
Nakal tapi manis
Ia berjalan ke arahku
Tetapi ia tak menoleh kepadaku

"Hei" kataku
Masih tanpa kata ia berlalu
Lalu aku berlari 
Mengejar dan menghadangnya

Ku lihat kulitnya memudar
Pucat, ada bintik yg mencekam
Bermaksud melihat lbh dalam
Tapi ia langsung menamparku

Seketika itu dia pergi
Menjauh sambil memarahiku
Ku biarkan saja
Karena itu hak nya

Otak ku berpikir
Hati ku bertengkar
Perihal kenyataan 
Yang baru ku temui

Pedih, itulah yang terjadi
Sengketa yang lain belum selesai
Datang ia bagai badai tak diundang
Menahan lebih sakit ternyata

Lalu hujan sejurus turun deras
Otakku masih berpikir
Hingga pagi datang
Hujan masih menemani asumsi sekilasku







10/09/16

Yur, apa kabar?

....aku pernah mengibaratkan kau sebagai tempat pulang paling indah. Tempatku berbagi rasa, berbagi kata, dan berbagi hari yang semakin hari semakin berat. Tetapi, sejak kepergianmu, semua tak lagi sama...

---

Perjumpaan itu di mulai semenjak 9 tahun yang lalu. Aku mengenalmu secara tidak sengaja. Di sekolah baru, tepat di tengah lapangannya. Aku baru pindah dari kota seberang, hendak bersekolah di kota impianmu, yang kemudian aku ketahui setelah kita berteman lebih dekat. 
"Namaku Yuri" begitulah katamu.
Sejak saat itu, aku memanggilmu dengan sapaan "Yur"

Yur dan aku pun mulai berteman. Sejak perkenalan pertama, aku sudah ingin mengajaknya untuk duduk sebangku denganku. Karena aku cukup buta tentang spesifikasi kriteria teman sebangku yang baik. Namun, pada saat aku melihat Yuri, aku percaya padanya.

Seperti biasa, saat baru masuk sekolah, maka semua murid baru harus mengikuti MOS ( Masa Orientasi Siswa ). Aku dan Yuri sibuk mencari semua peralatan "aneh" yang disuruh kakak kelas. Dari mulai bola kaki bahan plastik yang harus dijadikan topi, hingga ikat pinggang yang berasal dari kumpulan petai yang di buat menyerupai ikat pinggang.

MOS hanya dilaksanakan tiga hari. 
Dan setelah itu kami akan memulai jabatan baru sebagai murid SMP. 
Seperti kataku diatas, aku ingin mengajak Yuri menjadi teman duduk ku. Dan tak di sangka, Yuri pun langsung meng-iyakan ajakan ku.
Kami pun duduk bersama.

Perjalanan kami cukup panjang. Dimulai dari awal yang penuh dengan malu-malu, hingga akhirnya sama-sama buat malu. Aku dan Yuri mempunyai kesamaan, yaitu kami suka membuat lelucon tidak jelas hanya untuk kami nikmati sendiri. Yuri paling jago jika "menghina" dan aku paling hobi tertawa. Jadilah kami satu paket komplit. Dan aku lah yang paling bahagia, tertawa setiap hari. 

Selama 3 tahun kami sebangku. Selama itu pula banyak suka dan duka yang kami lalui. Dari mulai masalah belajar yang dimana ketika belajar kelompok dan kami tidak berada dalam satu tim, maka kami saling melempar bola panas untuk menghancurkan tim lawan. Perlawanan sengit di arena belajar tidak membuat kami memanas di luar. Kami tetap solid. Sebagai teman yang baik. Hingga ketika Yuri punya laptop baru, yang kami nikmati bersama dengan berfoto ria sampai baterainya habis dan memori penuh dengan wajah berantakan kami.2

Selepas SMP, aku memutuskan untuk bersekolah di salah satu SMAN terbaik di kota ini. Dan Yuri memutuskan untuk pindah ke lain kota, karena Ayahnya harus bekerja ke luar kota. Yuri sangat sedih, karena harus meninggalkan kota impiannya ini.

Semenjak tamat SMP, aku dan Yuri tidak pernah berkomunikasi. Sial. Nomor telepon Yuri menghilang. Terendam di dalam cucian. Karena aku meletakkan kertas berisi tulisan nomor teleponnya di dalam saku baju sekolahku. Ahh.

Sejak saat itu aku tidak pernah tau bagaimana kabar Yuri, dan begitu pula ia. Dia tidak pernah tau bagaimana kabarku.
Hening. 
Aku merasa kehilangan, namun aku bersyukur teman-teman baru ku di SMA cukup baik menyambut kehadiranku. Setidaknya aku bisa melupakan sedikit bayangan Yuri.

Hingga kini, tepat 9 tahun sudah.
Yuri tidak pernah kembali. Berkali-kali aku menghubunginya tetap tak ada jawaban darinya. Aku tidak tau bagaimana ia sekarang.
Yuri telah karam di dalam otak ku.
Tetapi kenangan yang pernah kami lakukan, masih ku simpan rapi didalam bilik kecil dalam hatiku.

Teruntuk Yuri, tempat pulang yang paling indah "pada saat itu" .
Dari teman yang sangat merindukanmu. Yara.

30/08/16

Sstt, ini tengah malam.

Apa yg dapat kau lakukan saat tengah malam tiba?
Ketika malam akan usai
Dan pagi siap menjemput harapan
Kau masih menimbang-nimbang
Pintu kamar telah terkunci
TV sudah dimatikan sejak 5 jam yg lalu
Nasi masih ada didalam rice cooker
Tapi lauknya sudah dilarikan kucing
Sayang, pikiranku tiba-tiba kandas
Enyah seketika
Terowongan masa lalu terbuka lebar
Mengajak ku untuk bermain disana
Diruangan gelap itu
Ada yang ku amati lekat-lekat
Mengingat setiap inci peristiwa
Kapan dan bagaimana 
Kemudian datanglah peri dari masa lalu
Dia bilang "katakan sesuatu"
Aku bertanya "sesuatu?"
Ia menjawab lugas "Iya, kau ingin sesuatu?"
Lalu aku mengacak-acak memori lama
Yang sudah ku format sebagian
Tapi sebagian lagi masih tertinggal
Dan itulah kini yg tersisa
Pintu kamar terbuka
Aku kira peri itu berubah jd nyata
Namun, keliru
Ternyata ayahku ingin ke kamar mandi
Seketika peri muncul kembali
Ia berkata "cepat katakan, sebelum aku pergi."
Aku berpikir sejenak
Dalam hati aku bertanya "Apakah mampu peri ini memberi ku arti dr semua ini?"
Seketika aku tersadar
Ini nyata
Aku terbangun dari tidurku yang tiba-tiba
Ternyata tadi aku tertidur
Seraya itu pula, bunga-bunga mimpi bergerilya
Pelan-pelan aku mencoba tenang
Lalu bertanya, "Peri? Apakah ia ada?"
Jam menunjukkan pukul 03.20
Dan aku tersentak
Besok aku harus pergi ke Bandara pagi-pagi sekali
Segera aku menutup mata lalu berdoa
Semoga setelah pagi nanti, semua ini bisa terformat habis.
Dan aku pun tidur dengan pulasnya.





27/08/16

Merdeka

Merdeka.

Baru kemarin rasanya, aku mendengarkan ratusan kali bahkan ribuan kali kata Merdeka di teriakkan. Dengan penuh lantang, mereka menyerbu ratusan umat untuk menyuarakan mengenai Kemerdekaannya.

Merdeka.

Bebas dari penjajahan, penindasan, ketakutan, kemiskinan, dan lainnya yang bersangkutan dengan perenggutan hak asasi manusia bahkan orang banyak.

Merdeka.
Itu kata hati
Teguh
Tak akan lagi.