30/08/16

Sstt, ini tengah malam.

Apa yg dapat kau lakukan saat tengah malam tiba?
Ketika malam akan usai
Dan pagi siap menjemput harapan
Kau masih menimbang-nimbang
Pintu kamar telah terkunci
TV sudah dimatikan sejak 5 jam yg lalu
Nasi masih ada didalam rice cooker
Tapi lauknya sudah dilarikan kucing
Sayang, pikiranku tiba-tiba kandas
Enyah seketika
Terowongan masa lalu terbuka lebar
Mengajak ku untuk bermain disana
Diruangan gelap itu
Ada yang ku amati lekat-lekat
Mengingat setiap inci peristiwa
Kapan dan bagaimana 
Kemudian datanglah peri dari masa lalu
Dia bilang "katakan sesuatu"
Aku bertanya "sesuatu?"
Ia menjawab lugas "Iya, kau ingin sesuatu?"
Lalu aku mengacak-acak memori lama
Yang sudah ku format sebagian
Tapi sebagian lagi masih tertinggal
Dan itulah kini yg tersisa
Pintu kamar terbuka
Aku kira peri itu berubah jd nyata
Namun, keliru
Ternyata ayahku ingin ke kamar mandi
Seketika peri muncul kembali
Ia berkata "cepat katakan, sebelum aku pergi."
Aku berpikir sejenak
Dalam hati aku bertanya "Apakah mampu peri ini memberi ku arti dr semua ini?"
Seketika aku tersadar
Ini nyata
Aku terbangun dari tidurku yang tiba-tiba
Ternyata tadi aku tertidur
Seraya itu pula, bunga-bunga mimpi bergerilya
Pelan-pelan aku mencoba tenang
Lalu bertanya, "Peri? Apakah ia ada?"
Jam menunjukkan pukul 03.20
Dan aku tersentak
Besok aku harus pergi ke Bandara pagi-pagi sekali
Segera aku menutup mata lalu berdoa
Semoga setelah pagi nanti, semua ini bisa terformat habis.
Dan aku pun tidur dengan pulasnya.





27/08/16

Merdeka

Merdeka.

Baru kemarin rasanya, aku mendengarkan ratusan kali bahkan ribuan kali kata Merdeka di teriakkan. Dengan penuh lantang, mereka menyerbu ratusan umat untuk menyuarakan mengenai Kemerdekaannya.

Merdeka.

Bebas dari penjajahan, penindasan, ketakutan, kemiskinan, dan lainnya yang bersangkutan dengan perenggutan hak asasi manusia bahkan orang banyak.

Merdeka.
Itu kata hati
Teguh
Tak akan lagi.





09/08/16

Sebuah paradigma.

Sudah lama saya tidak menulis lewat blog.
Kali ini saya ingin menulis tentang suatu pemikiran yang saya dapatkan belakangan ini.

Saya termasuk orang yang moody. Banyak aksi saya dikontrol oleh hati saya. Jika disuruh memilih, apakah saya menerima panggilan dari hati atau otak, kebanyakan saya menerima dr hati. Orang sering bilang pada saya, " Sudahlah, jangan terlalu pakai hati. Nanti kamu diinjak-injak". Saya berpikir, apakah memang seperti itu? Apakah memang sesuatu yang dr hati tak pernah ada baiknya?
Tapi walaupun begitu, banyak juga yang mengatakan pada saya bahwa saya itu manusia yang tak punya hati.
Saya rasa, saya lebih suka diinjak-injak jika memakai hati saya drpd harus dikatakan tidak punya hati.
Karena, apapun yang saya lakukan, hati saya selalu ikut bekerja. Hanya saja memang terkadang, emosi saya lebih tinggi dari kemampuan hati saya untuk menundukkan sikap saya.

Saya rasa manusia berubah. Tiap detik.
Baik dari segi pemikiran, sikap, sifat dsb. Tak ada manusia yang jahat selamanya, dan bukan berarti orang yang baik tak bisa berbuat jahat. Itulah kenapa setan ada. Menggoda manusia baik untuk menjadi tidak baik.

Saya, saya belum menjadi manusia yang baik. Masih banyak "kejahatan" yang saya lakukan terhadap orang lain dan terutama diri saya.
Kalau saja orang yang saya perlakukan dengan tidak baik tau, saya lebih jahat terhadap diri saya. Tapi bagaimana bisa manusia yang saya perlakukan tidak baik memikirkan seperti itu?

Manusia berubah. Dan terus mencoba berubah. Bagi saya selalu ada banyak kesempatan. Saya berhak memberi kesempatan terhadap siapapun. Karena saya selalu ingin diberi banyak kesempatan dari oranglain pula.

Kelemahan saya adalah, saya tidak dapat meluapkan dengan gamblang bagaimana isi hati saya. Saya selalu merasa kaku.
Orang yang tidak mengenal saya, pasti mengatakan ini itu tentang saya. Saya pahami itu.
Itulah mengapa ada manusia yang kita kategorikan sebagai teman dekat dan belum dekat. Bukan teman dekat dan tak dekat. Karena saya percaya, yang tak dekat bisa jadi dekat dengan kuncinya adalah agar kita mau untuk membuka diri.

Saya selalu percaya, manusia terlahir sebagai manusia yang baik. Itu mengapa, ketika saya menjadi tidak suka terhadap seseorang untuk waktu yang cukup lama, saya merasa tak adil pada diri saya. Karena saya juga tak ingin diperlakukan seperti itu.
Itulah mengapa, mengapa saya suka menyendiri ketika diri saya telah dikontrol emosi tak menentu. Saya butuh waktu untuk diri saya. Mengintrospeksi diri saya, sikap saya dan sifat saya. Dan saya percaya, semua manusia melakukan itu walau dengan caranya masing-masing.

Bagi saya kesempatan selalu ada. Karena letaknya di kita. Kunci dari tertutupnya kesempatan adalah dari kita.
Dan untuk itulah, ketika saya membenci sesuatu, saya selalu mengakhirinya dengan penyesalan. Karena saya telah menutup kesempatan untuk diri saya dan oranglain yang saya benci.

Dan saya sangat percaya, manusia berubah dan untuk itu kesempatan selalu ada untuknya. Sekalipun, ia tak mempercayai itu.

Masa lalu selalu ada. Karena masa lalu saya ada hari ini. Karena masa lalu pula, saya mulai mempercayai kekuatan hari ini.


Hari ini, dikala pemikiran itu datang.
(09-08-2016)



25/07/16

Liar

Aku ingin ia mendarah dalam daging yang beku
Mencerca setiap detik yang berlalu sia-sia
Membasahi setiap titik dalam nadi
Menjadi tempat pulang yang setia

Jika malam adalah hitam yang kubuat seakan merah
Mungkin akan ada kenyataan yang kubuat-buat
Untuk membumbui cerita agar menarik tuk disantap khalayak
Jika kau siap tuk menatap, aku siap menjadi objek yang membisu

Sekali lagi ketika aku ingin berlari
Tatapan liar semakin menajam tak ampun
Tempat bersembunyi buntu dengan kalimat sumpahan
Tempatku pulang, telah mati dalam sekali hembusan
Liar, aku liar dibawa badai seketika.


17/07/16

Hujan di padang pasir

Sebenarnya saya ingin mengakhiri ini semua. 
Namun, tiba-tiba sesosok malaikat datang mengatakan sesuatu. Tak istimewa. Hanya beberapa kalimat yang biasa namun sejurus mampu membuat runtuh tembok yang baru saja selesai dibangun. 

Sang malaikat hanya berkata seperti ini : "Saya lihat kamu suka menulis? Baiknya kamu menulis dalam blog atau website. Potensi kamu sangat besar dalam dunia menulis."

Sederhana dan sangat biasa.
Tapi, kau baca kan apa yang kutulis diatas?
Bahkan tembok pun runtuh.

.
.
.

Terkadang dalam hidup, kita tak perlu banyak. Sedikit saja, setitik mungkin. Tetapi ketulusan itulah yang membuatnya seakan sangat besar.


.
.
.

Terimakasih, Hujan di Padang Pasir.