Kamis, 23 Maret 2017

Ngasal

Kamis, 23 Maret 2017 0
Saat ini pukul 14:40 WIB, dan aku tepat berada di depan laptopku. Mematung, memandangi tab-tab yang ku buka. Dan tiba-tiba aja aku jadi pengen nulis....
Saat ini hujan baru saja turun, gemericik derasnya membasahi daun-daun diluar sana. Tepat dimataku ada sepasang pohon jambu yang lebat akan buahnya. Dan entah kenapa, aku jadi mengkhayal makan jambu, padahal kan aku lagi......................sudahlah, lupakan.....

Saat ini pukul 14:45 WIB, aku masih mengetik tulisan ini, sembari ngedengerin lagu Sheila On 7 yang berjudul Beruntungnya Aku. 

Saat ini pukul 14:47 WIB, dan aku masih ngedengerin lagu yang sama dengan posisi nyantai. Sembari menggaruk hidung yang gatal aku masih tetap menuliskan ini.

Hei, i need.............................................

Selasa, 21 Maret 2017

Noh Salleh - Sang Penikam

Selasa, 21 Maret 2017 0



Dalam terang malam Ku cari semua yang telah padam Dari suaramu
Dendam dan rindu fana Dan ku melayang Terhempas kenyataan yang membunuhku Dalam jiwaku Aku telah mencarimu Namun ku tersedar Harkat pilu yang menyintai rejam Kaulah putri ayu Yang kan menyimpan dendam Dan ku berjalan Menghampiri kenyataan yang membunuhku Dalam mimpiku Yang memimpikan rindu Tak bisakah Ku gantikan semua yang tercela Akan ku renggut Kebahagianmu Wahai putriku Maafkan ku lepas pesan ini Kau kan memburuku Dalam bencimu Tak bisakah Ku gantikan semua yang tercela Akan ku renggut Kebahagianmu Wahai putriku Maafkan ku lepas pesan ini Kau kan memburuku Dalam bencimu

Kamis, 16 Maret 2017

Where your "oxygen?"

Kamis, 16 Maret 2017 2
Everysecond we breathe like usually. But, not everyday we "breathe" like we want. Sometimes we "breathe" just because none we know for what.
Kalimat diatas baru saja aku tweet di akun twitterku. Entah atas dasar apa aku menuliskan ini, pokoknya pas lagi kepikiran tentang bernafas yauda tulis aja tentang begituan.
Dan anehnya, setelah beberapa menit kemudian, aku jadi kepikiran. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Beginilah kira-kira yang muncul di pikiranku...

Setiap detik kita bernafas. Menghirup oksigen dan  mengeluarkan karbon dioksida. Begitulah pelajaran biologi mengajari kita bagaimana proses dari bernafas. Dan untuk kalimat diatas, bernafas itu lebih kepada "melakukan" sesuatu. "Melakukan sesuatu" yang penting, sama seperti pentingnya kita bernafas. Jika terlewat sedikit saja maka tamatlah riwayat. Dan ketika melewatkan sesuatu yang penting untuk dilakukan, maka hampa lah hari-hari. 

Dan aku ingin bahas kalimat itu kata per kata...
Setiap detik kita bernafas seperti biasa...
Setiap hari kita melakukan sesuatu seperti biasa yang kita lakukan. Melakukan hal yang itu-itu lagi dan terus berulang-ulang. Bangun pagi, buka mata, ngeregangin tangan dan kaki, mandi, berpakaian, pergi ke tempat yang itu dan itu lagi. Setiap hari. Atas dasar apa? Kewajiban? Keterpaksaan? Keharusan? Atau memang sesuatu yang kita inginkan? Untuk beberapa orang, menyebalkan sekali melakukan hal yang itu-itu lagi setiap hari. Dan bagi sebagian orang pula, hal itu adalah hal wajar dan tak masalah sama sekali. Ya karena memang "Setiap detik kita bernafas seperti biasa, kan?"
Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin.
Ya, ini lebih kepada sebagian manusia yang ngerasa "tergelincir," "terjebak," "terpaksa," melakukan sesuatu. Ada manusia yang sebenarnya, dunianya bukan di dunia yang sedang digelutinya sekarang, namun karena sudah "terlanjur" maka mau tidak mau dan suka tidak suka, dia harus menyelesaikannya. Karena kita yang memulai maka kita juga yang harus mengakhiri, bukan? Dan memang, ada sebagian manusia-manusia yang "berani" memutuskan untuk menghentikan sesuatu yang telah dimulai atas dasar keyakinan, bahwa sesuatu yang akan dilakukannya seusai itu, adalah yang lebih baik baginya bahkan ya memang itulah dunia yang diinginkannya.

Untuk manusia yang "bernafas" tidak seperti inginnya, ini akan menjadi dilema yang besar. Mungkin mulanya, ketika pertama kali ia ngerasa "terjebak" dia bakal janji pada dirinya sendiri, bahwa "Ya, its oke, aku akan ngejalaninya" But, manusia tetaplah manusia. Sekuat apapun manusia menahan, maka pertahanan akan tumbang dan jiwa menuntut haknya. 
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah itu? "Menyesalinya," "Memakinya," atau ingin "Mati saja?"
Begitu banyak pilihan-pilihan yang bisa kita pilih setelah kita ngerasa "terjebak."
Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Dan bagaimana pada akhirnya nasib para manusia yang "terjebak" di belantara dunia yang bukan dunianya? Menerima saja karena semua akan berakhir dengan segera, dan walaupun pada akhirnya dia tidak tau untuk apa dia melakukan itu semua. Karena untuk mundur sudah terlalu jauh, maka jalani saja. Toh, jika pun nantinya buntu, setidaknya ia sudah juara untuk menyelesaikan hal paling menyebalkan yang pernah ia pilih dalam hidupnya.
 Toh penyesalan takan membawa apa-apa. Jika kita juga tak berbuat apa-apa.
Sebagian manusia yang tau dia salah, pasti nyesal se-nyesal-nyesalnya. Dan yaudah, cuma nyesel aja. Kesal sendiri dalam hati. Mau marah tapi sama siapa. Gimana lagi. Dan yaudah juga, penyesalan itu juga enggak bakal ngaruh apa-apa, toh cuma nyesal aja, ngutukin diri sendiri tanpa do something.  

And yang terakhir nih yang muncul dalam pikiranku adalah...
Mencari udara baru adalah solusi terdekat untuk saat ini. 
Setidaknya, kita bisa pergi menghirup udara yang lebih sejuk, minimal sekedar buat keleluasaan hidung dan paru-paru untuk ngerasain kesegarannya. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa. 

Dan kalimat ini adalah pengingat, biar kita sebaiknya tau, dimana udara terbaik itu berada.


Jangan lupa bernafas ya, Gengs!
Cheers!!

Untukmu..


video

Keringat peluhmu
Teriakan atas rasa sakitmu
Amarah yang membakar
Terpatri selalu dalam benakku

Ketika bocah kecilmu
Mulai belajar membenci
Belajar arti ingin diperhatikan
Dan malam-malam gelap masa kecilnya

Seketika itu kau datang
Menawar perih dan pedih
Aku belajar tak peduli
Semenjak saat itu

Tahun-tahun berlalu
Aku jatuh bangun
Belajar dan terus belajar
Melupakan dan melupakan

Begitupula denganmu
Kau mulai berubah
Fisik yang melemah
Dan stamina yang turun

Dan masih..
Aku belajar dan terus belajar
Melupakan dan melupakan
Masa kelam yang memenuhi isi kepala

Dan lagi...
Tahun berlalu terus berlalu
Aku semakin mengambang
Kau semakin menurun

Ini adalah tahun kesekian
Dari banyak tahun yang berlalu
Aku mulai memahami
Menerima dan menerima

Sebab kau tetaplah kau
Andil dalam kehadiran seorang manusia
Dan rasa yang kupunya 
Tetaplah milikmu selamanya





Selamat Ulang Tahun..........

Jumat, 10 Maret 2017

Rindu di antara Senja

Jumat, 10 Maret 2017 0


Saat itu rindu hinggap
Gegap yang pengap
Menyergap dengan lahap
Hati tersingkap harap

Sabarlah...
Sebab tanya
Selalu ada
Sampai senja tiba

Bertahanlah. . . .




 
◄Design by Pocket Distributed by Deluxe Templates
Blogger Templates