Jumat, 28 April 2017

Ketika orang gila ulang tahun

Hari ini temanku berulang tahun
Usianya kini 22 tahun
Tadi siang dia menghubungiku
Dan aku katakan padanya
"Hei, hari ini kau berulang tahun, bukan?"
Malu-malu ia menjawab
"Kok tau?"
Dan aku beri ia sebuah pertanyaan
"Tell me, what i dont know?"
Dia tertawa
Tawa yang khas
Lepas dan tanpa beban
Lalu aku katakan padanya
"Sekarang kau sudah tua, bukan?"

Dan ia balik berkata
"Iya memang, tapi masih lebih tua kau, bukan?"
Dan begitulah
Pertikaian yang sepele
Dan sama sekali tidak penting
Seorang manusia gila
Yang akan tetap gila
Hari ini berkurang jatah hidupnya
Selamat ulang tahun, Geng!
Share:

#Kisah

Pagi ini ada segelas kopi panas
Menemani semilir angin
dan cerah sinar matahari
di balik pintu rumah
Ada berita terbaru di koran pagi ini
Seorang ayah bunuh diri bersama anaknya
Sebab perselingkuhan istrinya
Anak jadi tumbal
Anak-anak yang sedang berlarian
Di teras rumah
Mengingat ini hari minggu
Tak masalah kalau jam segini masih keluyuran
Sudah jadi makanan sehari-hari
Kata di tantang kata
Kegaduhan antar tetangga
Seperti nyamuk yg berkeliaran
Tiba-tiba pak Tua datang
diketuknya pintu dari samping
Gemetar kaki menyimpan tanya
Hendak apa pagi-pagi begini
"Sejam yang lalu kau bilang 2 jam lagi,
bagaimananya?"
Gadis kecil menangis
Teriakan memekik menembus gendang telinga
Sayur-sayuran yang di tanam di depan rumah
Sudah segar dan mekar
Hendak di kupas
Tapi pemiliknya buat pagar setingginya
Beginilah adanya
Sejumlah kisah kehidupan
Di mata seorang gadis yang hendak pulang kampung
Sejumput cerita baru
Dan bersama dengan habisnya kopi di gelas
Anak-anak pun kembali ke peraduan
Ku tutup saja cerita ini
Dengan atau tanpa arti, bagiku semua tetap bermakna
Sebab apa yang tak masuk di logikamu
Tentu masuk ke dalam hatimu




Share:

Jumat, 14 April 2017

Aku sedang menanti janji-Nya



Terdengar merdu
Suara pagi
Yang sayup-sayup
Menyapa jiwa

Seperti biasa
Senyumku mengembang
Lalu pulang
Kemana tempat semestinya berada

"Ini sesuatu"
Pikirku
Ku nikmati selembar hari
Sampai malam ku temui kata

Bukan karena
Hanya harus
Sebab sesungguhnya
Kita hanya 

Karena sebab
Bukan berarti sama
Hanya harus
Agar tak ada yang terputus

Jika terlintas
Apa yang hendak ku jelaskan?
Mungkin memang
Karena itu aku sedang berusaha

Karena apa?
Aku sedang menanti sebuah janji
Dari Dia 
Yang paling ku Percaya



Share:

Kamis, 23 Maret 2017

Ngasal

Saat ini pukul 14:40 WIB, dan aku tepat berada di depan laptopku. Mematung, memandangi tab-tab yang ku buka. Dan tiba-tiba aja aku jadi pengen nulis....
Saat ini hujan baru saja turun, gemericik derasnya membasahi daun-daun diluar sana. Tepat dimataku ada sepasang pohon jambu yang lebat akan buahnya. Dan entah kenapa, aku jadi mengkhayal makan jambu, padahal kan aku lagi......................sudahlah, lupakan.....

Saat ini pukul 14:45 WIB, aku masih mengetik tulisan ini, sembari ngedengerin lagu Sheila On 7 yang berjudul Beruntungnya Aku. 

Saat ini pukul 14:47 WIB, dan aku masih ngedengerin lagu yang sama dengan posisi nyantai. Sembari menggaruk hidung yang gatal aku masih tetap menuliskan ini.

Hei, i need.............................................
Share:

Selasa, 21 Maret 2017

Noh Salleh - Sang Penikam




Dalam terang malam Ku cari semua yang telah padam Dari suaramu
Dendam dan rindu fana Dan ku melayang Terhempas kenyataan yang membunuhku Dalam jiwaku Aku telah mencarimu Namun ku tersedar Harkat pilu yang menyintai rejam Kaulah putri ayu Yang kan menyimpan dendam Dan ku berjalan Menghampiri kenyataan yang membunuhku Dalam mimpiku Yang memimpikan rindu Tak bisakah Ku gantikan semua yang tercela Akan ku renggut Kebahagianmu Wahai putriku Maafkan ku lepas pesan ini Kau kan memburuku Dalam bencimu Tak bisakah Ku gantikan semua yang tercela Akan ku renggut Kebahagianmu Wahai putriku Maafkan ku lepas pesan ini Kau kan memburuku Dalam bencimu

Share:

Sabtu, 18 Maret 2017

Kepulangan.

Ada yang terbakar-bakar
Ada yang meminta-minta
Ada yang menunggu-nunggu
Ada yang berharap-harap

Terbelah-belah
Kanan itu
Kiri ini
Mengerang-ngerang

Jagat-jagat
Pecah-belah
Satu karam
Dua menghilang

Merdeka!
Seru isyarat
Karat-karat
Mengkilap-kilap

Siap!
Tanda tersirat
Nyergap-nyergap
Dalam pekat

Satu-satu
Dua-dua
Pekat gelap
Jalan buntu

Pulanglah!

Share:

Kemana aja?

Saat itu pukul 22.18 WIB, sebuah pesan dari salah seorang teman membangunkanku dari tidur yang sudah susah payah ku usahakan. Tanganku sigap meraba ke bawah bantal, tempatku biasanya meletakkan handphone. Lalu dengan mata sedikit rapat, aku mulai membuka pola dari handphoneku dan membaca pesannya.

Randy : "Yur, sebab kata tak bisa lagi mewakili rasa. Aku akan segera mengunjungimu bulan depan."

Glek! Aku menelan ludah, sembari itu pula mataku terbelalak dan segera sirnalah rasa kantuk luar biasa itu. Dalam keadaan jiwa yang masih  belum stabil, aku mencoba berfikir. 

"Hhhm, ini orang. Selalu aja ngomong gitu. Dan sepertinya, ini udah kesepuluh kali dia bilang gitu" pikirku dalam hati.

Tak lama aku pun mencoba membalasnya dengan santai "Iyaa, aku tunggu yaa." Dan seperti biasa, itu adalah jawaban yang sama dan terus ku ulang-ulang atas sebuah pernyataan darinya tentang hal yang itu-itu lagi.

Selesai aku membalas pesannya, aku melanjutkan tidurku. Dengan otak yang masih berfikir-fikir, ku tutup mata sembari mengingat apa yang ada didalam pikirannya ketika mengatakan hal itu lagi.

---

Suara alarm membangunkanku pagi ini. Orang-orang yang sudah berlalu lalang didepan rumah juga hendak menyadarkanku dari mimpi malam tadi. Dengan susah payah, ku buka mataku agar kantuk segera hilang. Lalu aku pun duduk sebentar untuk menghilangkan kantuk dan mengumpulkan nyawa yang masih berantakan. 

Sialnya adalah, saat aku sedang asyiknya ngumpulin nyawa, kata-kata si Randy datang dalam pikiranku. Dan tiba-tiba pula, aku jadi males buat ngapa-ngapain. Yaiyalah, capek cuy ngeliat orang bilang itu dan itu lagi namun tak pernah jadi nyata.

Dan untuk menghilangkan rasa jengkel ku, aku mengambil handuk untuk segera mandi. Selesai mandi, aku segera berpakaian. Hari ini hari Jum'at, dengan satu mata kuliah yang membosankan, aku pun segera menyusun buku-buku ke dalam tas. Jumat adalah hari yang ku rindukan setiap minggunya, namun karena Dosen di mata kuliah yang super duper membosankan, jugalah membuat kantuk yang luar biasa kalau mengajar, maka tak lah jadi persoalan mengapa para mahasiswa-mahasiswi nya pada males kuliah.

Aku berangkat ke kampus. Di tengah jalan, aku bertemu dengan salah seorang teman yang bisa dibilang sudah aku kenal lahir dan batin. Namanya Eki. Eki adalah pria kesepian yang butuh kehangatan seorang wanita. Namun entah mengapa sampai sekarang ia memilih sendiri. Kali aja dia mau menikmati masa-masa kesepiannya.

"Yur, kok kamu melamun terus?" Tanya Eki padaku.
"Ia, Ki. Aku lg dilanda gundah gulana" jawabku santai sambil menatap mata si Eki yang hitam hendak menerkam.
"Ooh..aku tau pasti karena si Randy, kan?" Jawabnya spontan.
"Betulllll...gimana nih ki? Aku pusing ngeliatnya. Itu anak gatau maunya apa. Udah entah berapa kali dia berjanji tapi toh gapernah muncul juga wujudnya" jawabku dengan muka memelas minta dikasihani sama Eki.
"Tuhlah kaan, bandal kamu dibilangin, doi itu cuma bisanya gitu aja. Kalau aku rasa sih, doi cuma mau buat kamu terbang ke langit dengan janjinya, doi gatau aja, kalau langit ke bumi itu jauh bener" jawab Eki dengan jujurnya.

Eki adalah manusia paling jujur seantero jagat raya. Biarpun aku itu wanita, tp tetap aja doi enggak bakal peduli aku wanita. Ngomongnya ngasal, alesannya jujur. Tp kadang jarang mikir aja. Walau gitu, aku tetap percaya sama dia.

"Tapi kan Ki, lucu aja. Masa dia terus-terusan bilang gitu. Ya aku jadi bingung mau nanggepin gimana. Mau bilang kalau aku bakal nunggu dia dateng tapi taunya dia gapernah muncul, jadi bingung" jawabku atas pernyataan Eki.

"Yaudalah Yur, nantilah itu kita pikirkan, ayo kita makan. Ingat lho, galau juga butuh nutrisi. Jadi ya you know lah what i mean, hahahaa" ejek Eki padaku.

---

Siang ini aku pulang bareng Eki. Karena emang gitulah si Eki, kalau tau aku lagi punya masalah selalu aja ngajakin pulang bareng. Padahal walaupun kami pulang sama, tetap aja enggak pernah ada kesimpulan atas masalah yang ada. 

Di tengah jalan, Eki ngajak ke mampir ke toko pakaian. Eki adalah makhluk ngasal sebenernya. Tp tumben kali ini doi ngajak ke toko pakaian. Dan aku pun jado bingung saat dia ngajak ke toko itu.

"Apaa? kemana? Ga salah? Salah kali ini. Kamu udah makan, Ki? Eh udah tadi kan? Jadi kok tumbeeen?" Tanyaku bingung

"Santailah Yurr, aku mau belikan saudara aku nih. Soalnya ada yang baru datang dari pulau seberang. Dan besok doi bakal balik. Jadi yaudah aku kasih baju aja buat oleh-oleh" jawab Eki sekenanya.

"Hoooooooooo.....kirain. Yuklah kalau gitu" jawabku.

Kami pun masuk ke toko dan mulai memilih-milih pakaian mana yang cocok buat saudara Eki.

"Ki, pulanglah yuuuk. Aku mau tiduuuur. Ngantuuk nihhh." Ajak ku pada Eki sambil menarik bajunya.

"Apa ngantuk? Hei, jam berapa ini? Gausah banyak alasanlah, Yur. Sabar yaa, kita pergi ke teman yang bakal ngilangin suntuk kamu entar lagi." jawab Eki meyakinkan.

Dan aku pun masih nunggu si Eki milih-milih baju sambil sesekali menguap.

---

"Ekiii, kok kemariii? Inikan tempat gila waktu kita SMA!!" teriakku pada Eki.

"Iyaa bener. Sengaja. Aku mau ingetin kamu sesuatu." jawab Eki penuh misteri.

"Apa tuh?" Tanyaku penasaran.

"Rahasiaaaaa!!!" Jawab Eki sambil berlari menjauh dariku.

Kami sedang berada di salah satu taman rahasia di dekat SMA dulu. Lebih tepatnya ini adalah tongkrongan aku dan Eki serta dua teman kami dulunya. Taman yang cuma ada tempat duduk berbahan kayu beserta atap rumbai-rumbai dan rumput di sekelilingnya. Dulu, tempat ini juga jadi saksi dimana Bima, menyatakan perasaannya padaku. Tempat dimana kami bisa ngobrol ngalur ngidul sampai petang hari. Intinya, ini adalah tempat menarik buatku. Karena jauh dari keramaian dan penuh kedamaian.

"Yuriiiiiiiiii!!!!!" Teriak Eki menyadarkanku dari lamunan masa lalu.

"Hissss, apa Ki? Aku denger loooo, pelan aja, santaaaiiii. What happen?" tanyaku sambil memarahi si Eki.

"Gimana? Udah mendingan belom?" Tanya Eki.

"Ya belomlaaah. Justru makin kepikiran. Apalagi tempat sepi ginii." Jawabku kesal sama Eki.

"Yur, denger ya. Semua hal akan baik-baik saja. Kalau kamu mikirnya juga baik-baik aja. Kamu kenapa seperti ini? Ya karena kamu terlalu mikir berlebihan. Toh, si Randy disana bakal mikir hal yang sama enggak seperti yang kamu pikirkan sekarang? Aku yakin sih enggak. Kenapa? Yaiyalah. Doi mah jauh. Bisanya cuma ngomong dan kasih janji doang sama kamu melalui pesan singkat. Dan setelahnya? Mungkin aja dia bakal jalan sama yang lain disana. Jadi yaa ngapain juga dipikirin. Kalau emang dia serius mau kemari, dia pasti bakal bilang hanya sekali dan itu memang bener-bener terjadi. Kalau gini mah, jangan percayaa. Udah ah, sayang tuh pikiran sama hati. Mending kamu ingat masa-masa bahagia di tembak si Bima." papar Eki bak Mario Teguh walau ujung-ujungnya buat kesal.

"Iyaa, kamu ngomong gampang aja, Ki. Tapi kan tetap aja gabisa secepat itu ngelupainnya. Gini-gini kan aku cewek dan punya perasaan." Jawabku kesal.

"Apaa? Cewek? Punya perasaan? Aku kira kamu laki-laki selama ini. Ternyata kamu cewek yaa." jawabnya sambil bergurau.

"Ki, tau kampret?" Tanyaku.

"Ya taulah, itulah kamu Yuriiii." Jawab eki sambil diiringi tawa jahat.

"Woooyyy kampreeettttttt!!!!!!!" Teriakku pada Eki yang berlari.

---

Saat itu senja. Aku selalu menyukai momen saat matahari akan tenggelam. Semburat warna orangenya memikatku. Gumpalan awan yang mengiringinya adalah penyempurna. Bagiku, matahari terbit adalah penyemangat dan matahari terbenam adalah penyempurna. 

Saat matahari sudah sempurna tenggelam, aku dan Eki pulang. Dengan tawa terbahak-bahak tiada henti kami pulang ke istana masing-masing.


Bersambung.....
Share:

Kamis, 16 Maret 2017

Where your "oxygen?"

Everysecond we breathe like usually. But, not everyday we "breathe" like we want. Sometimes we "breathe" just because none we know for what.
Kalimat diatas baru saja aku tweet di akun twitterku. Entah atas dasar apa aku menuliskan ini, pokoknya pas lagi kepikiran tentang bernafas yauda tulis aja tentang begituan.
Dan anehnya, setelah beberapa menit kemudian, aku jadi kepikiran. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Beginilah kira-kira yang muncul di pikiranku...

Setiap detik kita bernafas. Menghirup oksigen dan  mengeluarkan karbon dioksida. Begitulah pelajaran biologi mengajari kita bagaimana proses dari bernafas. Dan untuk kalimat diatas, bernafas itu lebih kepada "melakukan" sesuatu. "Melakukan sesuatu" yang penting, sama seperti pentingnya kita bernafas. Jika terlewat sedikit saja maka tamatlah riwayat. Dan ketika melewatkan sesuatu yang penting untuk dilakukan, maka hampa lah hari-hari. 

Dan aku ingin bahas kalimat itu kata per kata...
Setiap detik kita bernafas seperti biasa...
Setiap hari kita melakukan sesuatu seperti biasa yang kita lakukan. Melakukan hal yang itu-itu lagi dan terus berulang-ulang. Bangun pagi, buka mata, ngeregangin tangan dan kaki, mandi, berpakaian, pergi ke tempat yang itu dan itu lagi. Setiap hari. Atas dasar apa? Kewajiban? Keterpaksaan? Keharusan? Atau memang sesuatu yang kita inginkan? Untuk beberapa orang, menyebalkan sekali melakukan hal yang itu-itu lagi setiap hari. Dan bagi sebagian orang pula, hal itu adalah hal wajar dan tak masalah sama sekali. Ya karena memang "Setiap detik kita bernafas seperti biasa, kan?"
Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin.
Ya, ini lebih kepada sebagian manusia yang ngerasa "tergelincir," "terjebak," "terpaksa," melakukan sesuatu. Ada manusia yang sebenarnya, dunianya bukan di dunia yang sedang digelutinya sekarang, namun karena sudah "terlanjur" maka mau tidak mau dan suka tidak suka, dia harus menyelesaikannya. Karena kita yang memulai maka kita juga yang harus mengakhiri, bukan? Dan memang, ada sebagian manusia-manusia yang "berani" memutuskan untuk menghentikan sesuatu yang telah dimulai atas dasar keyakinan, bahwa sesuatu yang akan dilakukannya seusai itu, adalah yang lebih baik baginya bahkan ya memang itulah dunia yang diinginkannya.

Untuk manusia yang "bernafas" tidak seperti inginnya, ini akan menjadi dilema yang besar. Mungkin mulanya, ketika pertama kali ia ngerasa "terjebak" dia bakal janji pada dirinya sendiri, bahwa "Ya, its oke, aku akan ngejalaninya" But, manusia tetaplah manusia. Sekuat apapun manusia menahan, maka pertahanan akan tumbang dan jiwa menuntut haknya. 
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah itu? "Menyesalinya," "Memakinya," atau ingin "Mati saja?"
Begitu banyak pilihan-pilihan yang bisa kita pilih setelah kita ngerasa "terjebak."
Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Dan bagaimana pada akhirnya nasib para manusia yang "terjebak" di belantara dunia yang bukan dunianya? Menerima saja karena semua akan berakhir dengan segera, dan walaupun pada akhirnya dia tidak tau untuk apa dia melakukan itu semua. Karena untuk mundur sudah terlalu jauh, maka jalani saja. Toh, jika pun nantinya buntu, setidaknya ia sudah juara untuk menyelesaikan hal paling menyebalkan yang pernah ia pilih dalam hidupnya.
 Toh penyesalan takan membawa apa-apa. Jika kita juga tak berbuat apa-apa.
Sebagian manusia yang tau dia salah, pasti nyesal se-nyesal-nyesalnya. Dan yaudah, cuma nyesel aja. Kesal sendiri dalam hati. Mau marah tapi sama siapa. Gimana lagi. Dan yaudah juga, penyesalan itu juga enggak bakal ngaruh apa-apa, toh cuma nyesal aja, ngutukin diri sendiri tanpa do something.  

And yang terakhir nih yang muncul dalam pikiranku adalah...
Mencari udara baru adalah solusi terdekat untuk saat ini. 
Setidaknya, kita bisa pergi menghirup udara yang lebih sejuk, minimal sekedar buat keleluasaan hidung dan paru-paru untuk ngerasain kesegarannya. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa. 

Dan kalimat ini adalah pengingat, biar kita sebaiknya tau, dimana udara terbaik itu berada.


Jangan lupa bernafas ya, Gengs!
Cheers!!

Share:

Untukmu..


video

Keringat peluhmu
Teriakan atas rasa sakitmu
Amarah yang membakar
Terpatri selalu dalam benakku

Ketika bocah kecilmu
Mulai belajar membenci
Belajar arti ingin diperhatikan
Dan malam-malam gelap masa kecilnya

Seketika itu kau datang
Menawar perih dan pedih
Aku belajar tak peduli
Semenjak saat itu

Tahun-tahun berlalu
Aku jatuh bangun
Belajar dan terus belajar
Melupakan dan melupakan

Begitupula denganmu
Kau mulai berubah
Fisik yang melemah
Dan stamina yang turun

Dan masih..
Aku belajar dan terus belajar
Melupakan dan melupakan
Masa kelam yang memenuhi isi kepala

Dan lagi...
Tahun berlalu terus berlalu
Aku semakin mengambang
Kau semakin menurun

Ini adalah tahun kesekian
Dari banyak tahun yang berlalu
Aku mulai memahami
Menerima dan menerima

Sebab kau tetaplah kau
Andil dalam kehadiran seorang manusia
Dan rasa yang kupunya 
Tetaplah milikmu selamanya





Selamat Ulang Tahun..........

Share:

Jumat, 10 Maret 2017